Perusahaan messaging raksasa asal Korea "Kakao", gelar International Blockchain Conference for Social Impact

Perusahaan messaging raksasa asal Korea "Kakao", gelar International Blockchain Conference for Social Impact

Setelah berhasil mengumpulkan dana melalui private coin offering sebesar 90 juta US Dollar (setara 1,2 triliun Rupiah), perusahaan messaging raksasa, Kakao, mendirikan anak perusahaannya yaitu Ground X. Baru-baru ini, Ground X mengumumkan project Blockchain mereka yang diberi nama "Klaytn" dan akan mengadakan konferensi skala internasional yang bertajuk "Blockchain for Social Impact Conference 2019".

Dikutip dari laman Twitter official Klaytn, event tersebut akan diadakan pada tanggal 9 Agustus 2019 di Seoul, Korea Selatan. Kabarnya acara tersebut akan dihadiri perwakilan perusahaan blockchain dari Indonesia, HARA.


Sejak diluncurkan testnet pertamanya di bulan Oktober 2018 lalu, Klaytn telah banyak terlibat dalam kegiatan sosial dan bekerjasama dengan organisasi non-profit untuk memberikan transparansi dan kemudahan bertransaksi. Sejak itu, Klaytn berkomitmen untuk memberikan dampak positif blockchain bagi masyarakat sosial. 


Penerapan blockchain untuk dampak sosial sebenarnya bukanlah hal yang baru, bahkan trend ini disebutkan sebagai bagian dari pengembangan blockchain 4.0 sejak tahun 2018. Baru-baru ini Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia juga tengah melakukan kajian penerapan blockchain untuk mendukung kegiatan logistik. Blockchain yang berpusat pada dampak untuk industri dan masyarakat telah banyak dilakukan diluar negeri, sayangnya belum banyak diterapkan oleh penggiat industri blockchain di Indonesia. Untuk mengejar ketertinggalan tersebut, kembali diadakan Global Blockchain Summit 2019 di penghujung bulan Juli di hotel Ritz-Carlton SCBD, Jakarta. 


Regi Wahyu, CEO HARA, mengungkapkan bahwa blockchain harus bisa membawa dampak sosial bagi masyarakat. Hal ini telah dibuktikan dalam acara penandatangan kerjasama BNI 46 dan HARA dalam proses digitalisasi KUR dan bantuan program pemerintah melalui Kartu Tani. Sebanyak lebih dari 23.000 data petani telah berhasil dicatatkan menggunakan teknologi blockchain sehingga pemberian kredit dan subsidi pupuk bagi petani kecil menjadi transparan dan terpercaya.


Dengan maraknya pengembangan blockchain 4.0 yang berpusat pada industri dan masyarakat sosial, dapat menjadi penanda dimulainya fase seleksi project blockchain yang telah menjadi tidak relevan atau tidak memiliki guna.