Sistem Logistik Pangan Lebih Efisien dengan Blockchain

Sistem Logistik Pangan Lebih Efisien dengan Blockchain

Jakarta -  Pemanfaatan blockhain bisa membuat sistem logistik pangan menjadi lebih efisien. Hal itu bisa mulai diterapkan dalam penggunaan teknologi blockchain untuk sistem rantai pasok pangan di beberapa sentra produksi.


Guru Besar Fakultas Teknologi Pertanian, Institut Pertanian Bogor (IPB) Yandra Arkeman menjelaskan blockchain merupakan salah satu satu yang akan membentuk peradaban manusia ke depan di berbagai bidang kehidupan. Pemanfaatan teknologi maju menjadi prasyarat dalam pengembangan blockchain tersebut. Yandra menjelaskan penggunaan teknologi blackchain untuk sistem rantai pasok dan logistik beras bisa diimplementasikan. Dengan teknologi blockchin bisa diketahui jumlah produksi beras yang cukup atau belum memenuhi konsumsi nasional.


“Kebutuhan beras apakah cukup untuk kebutuhan nasional sehingga kita berfikir untuk mengefesienkan logistik sistem pertanian,” tuturnya dalam sebuah diskusi di Jakarta, Kamis (22/8).

Penegasan Yarkan ini juga sudah disampaikan ketika memberikan orasi ilmiahnya pada Agustus 2018 lalu. Saat itu, dia secara khusus mendorong persiapan bagi generasi muda yang paham bahasa program komputer atau coding untuk menghadapi era Industri 4.0. Dia mengingatkan ada dua hal yang akan membentuk peradaban manusia, yaitu penggunaan teknologi digital seperti kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dan blockchain di berbagai bidang kehidupan. Menurut Yandra, teknologi akan membahayakan jika manusianya tidak siap. Untuk itu, generasi muda Indonesia yang akrab dengan gawai, jangan hanya menjadi pengguna tapi harus jadi tuan dari gawai tersebut.

Dalam diskusi kemarin, dia menegaskan lagi bahwa ada empat permasalahan yang bisa ditangani teknologi blackchain.

Empat permasaahan itu adalah

  • luas lahan padi menurun dalam negeri (konversi lahan),
  • distribusi yang tidak efisien karena buruknya infrastruktur,
  • panjangnya rantai tata niaga padi/beras dan
  • data terkait antarkementrian yang berbeda-beda.


“Keempat permasalahan ini hal yang bisa ditangani oleh sistem informasi teknologi, salah satunya blackchain yang sangat potensial untuk memecahkan permasalahan itu,” pungkasnya.

Disisi lain, seorang CTO dari Freshmart yang bernama Isybel Harto, yang juga sebagai Developer Blockchain mengatakan bahwa Freshmart yang dikembangkannya dikemudian hari akan menerapkan teknologi blockchain. Sesuai dengan visinya adalah bagaimana petani/nelayan/pekebun bahkan pabrik pengolah makanan dapat langsung menjual produk mereka langsung ke end user. Tagline dari Freshmart sendiri adalah "From Farm To Table", bukanlah isapan jempol semata, karena akan melibatkan beberapa teknologi terapan seperti berikut:

1. IoT (Internet of Things) di gunakan pada lahan pertanian, atau juga pada tambak-tambak ikan, sehingga data-data dari lahan-lahan tersebut secara real time di distribusikan ke sistem penglohan data sehingga menciptakan Big Data yang mana data ini akan menjadi acuan bagi lahan-lahan lain untuk penerapannya.
2. CCTV menggunakan Artificial Inteligence, digunakan untuk membaca karakteristik dari buah/sayur/ikan tersebut. Dengan metode Neural Processing Language (NPL), sebuah barang tertentu dapat di analisa dengan bantuan machine learning sehingga kualitas suatu barang dapat diketahui apakah layak jual atau tidak. 
3. RFID Tag digunakan untuk mengecek pengiriman dari lahan ke titik-titik distibusi, hingga akhirnya ditempatkan pada sebuah vending store market yang mirip dengan Vending Mesin minuman yang akan di tempatkan di perkantoran, perumahan, appartemen, rumah sakit, dll. 
4. QR - Code yang digunakan untuk pengecekan produk seperti mengetahui produksi kapan, berasal dari mana, isi dalam produk tersebut dll, yang semuanya itu akan tersedia di dalam mobile apps.
5. Pembayaran Online dan berbasis Crypto yang akan ada di dalam E-wallet
 

Beliau mengatakan bahwa semua teknologi ini sudah ada beberapa yang mature dan beberapa sedang dikembangkan terus. Namun, untuk Vending Store Market belum ada di Indonesia, sedangkan di negara lain seperti China, Korea, Jepang, Eropa dan Amerika Serikat sudah menerapkan hal ini. Kemungkinan dalam 2-3 tahun ini, kita akan menemukan barang ini di tempat-tempat umum. 

Berbicara tentang Blockchain, beliau mengatakan bahwa Blockhain mendukung semua system teknologi, karena pada dasarnya blockchain itu adalah sebuah database, namun teknologi yang digunakan adalah berbasis Distributed Ledger Technology (DLT). Saat ini sudah ada hampir 6000 proyek yang menggunakan Blockchain dengan berbagai tipe industri seperti: Internet of Things, Artificial Inteligence, Manufacture, Banking, Entertaint, Ads, Big Data, Communication, Tourism, Media, Health, Real Estate, Education, Energy, Legal dan Art.

Semoga hal ini terwujud dalam 5 tahun kedepan, pungkasnya.