Vexanium Akan Membantu Mahasiswa Dalam Membuat Applikasi Berbasis Blockchain Di Bidang Pertanian

Vexanium Akan Membantu Mahasiswa Dalam Membuat Applikasi Berbasis Blockchain Di Bidang Pertanian

Jakarta - Teknologi blockchain berperan penting dalam mempermudah tata kelola lintas bagian dalam urusan bisnis. Hal tersebut diutarakan Edi Prio Pambudi, Asisten Deputi Moneter dan Neraca Pembayaran dari Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, dalam acara Nodes Blockchain Summit, yang digelar di Mall Px Pavillion, Jakarta, (18/11). Acara tersebut diprakarsai oleh Vexanium dan merupakan rangkaian dalam Indonesia Blockchain Week 2019.

Puluhan mahasiswa dari Universitas Mercu Buana, Budi Luhur dan Perguruan Tinggi Raharja menyimak paparan Edi. Ia menyebut teknologi harus membuat segala sesuatu menjadi mudah bagi pengguna (user friendly), termasuk platform yang mengatur hubungan bisnis.

Edi melihat teknologi blockchain sebagai sebuah platform yang bisa digunakan untuk membangun teknologi lain. Ia menggunakan sebuah game, Sea Port, sebagai analogi platform, di mana pemain harus mampu mengelola sumber daya yang ada untuk membangun sebuah pelabuhan kecil menjadi pusat bisnis bagi produk-produk kelautan.

Melalui analogi tersebut, Edi ingin menyampaikan bahwa untuk memecahkan beragam masalah pengelolaan sumber daya dalam negeri, dibutuhkan strategi ambidextrous, yaitu memanfaatkan yang ada sekaligus mencari yang baru. Ia juga menghimbau kepada pelaku industri untuk antisipasi terhadap apa yang akan terjadi dan siap menghadapi disrupsi.

Blockchain memang masih, tetapi ampuh untuk mengelola sumber daya. Khusus di sektor pertanian, Edi mengungkit sejumlah perusahaan teknologi yang mendisrupsi sektor tersebut. Ia menyebutnya sebagai “New Power” atau kekuatan baru, yaitu penerapan teknologi blockchain sebagai bagian dari teknologi informasi di pertanian.

Terkait itu, Vexanium merupakan pihak yang juga diajak Edi untuk membangun sektor pertanian, sebab Vexanium sebagai public blockchain, pengembang bisa membuat beragam aplikasi desentralistik di atasnya, termasuk aplikasi pertanian.

Industri pertanian memang mengalami masalah, terutama jumlah pekerja yang semakin berkurang, sebab kaum muda kurang tertarik dengan profesi ini. Selain itu, keuntungan yang diraih petani hanya terjadi saat panen saja. Penerapan teknologi informasi bagi sektor ini adalah tepat sasaran, di mana anak muda kembali berperan untuk menumbuhkan industri agrikultur.

Dengan diterapkannya blockchain sebagai sistem tata kelola bagi pertanian, maka akan muncul nilai baru dalam bentuk nilai jejaring (network value), bukan lagi nilai kapital atau modal yang dimiliki. Nilai jejaring inilah yang saat ini dilirik oleh investor, sehingga bukan tidak mungkin sektor pertanian Indonesia mampu menjadi industri yang diminati investor, baik dalam negeri maupun luar negeri.